Senin, 28 Maret 2011

FABEL TENTANG KECAPAN DALAM REKAMAN


Ketentraman Hutan Azon beberapa hari ini terusik. Ada suara-suara aneh yang terdengar hanya di malam hari. Suara yang tak enak di telinga dan membuat semua penghuni hutan jadi marah-marah. Ya, karena di malam hari seharusnya mereka semua bisa tidur dengan nyenyak. Tetapi kini, waktu istirahat itu terganggu.
“Nyam… cap cap cap! Nyam… cap cap cap!”
“Uwaaaah!!! Suara apa itu?” teriak Hose Kuda geram. Dialah yang paling terganggu sejak suara itu muncul. Suara-suara itu terdengar keras dan dekat dengan tempat tinggalnya. Semua teman juga bilang begitu.
“Hei, harusnya kamu yang bertanggungjawab! Kamu yang harus menghentikan suara itu, Hose!” kata Cowi Sapi.
“Lho, lho, lho… kenapa aku? Aku juga tidak tahu dari mana suara itu berasal, kok,” sahut Hose Kuda tak terima dipersalahkan atas kejadian ini. “Aku juga korban. Aku yang paling susah tidur karena suara misterius itu!”
“Nah, kalau begitu kenapa tidak segera kamu temukan sumber suara itu? Pastinya pemilik suara jelek itu tinggal di sekitar rumahmu, kan? Masa kamu membiarkan saja ada makhluk asing tinggal di dekatmu tanpa permisi?” omel Bemo Beruang. “Atau kamu mau aku melaporkan kejadian ini pada Raja Saga? Aku bisa menelponnya dengan ponselku sekarang juga.”
Hose Kuda membeliak. Terkejut dan takut. Bemo Beruang tak pernah main-main dengan ancamannya. Dengan seluruh harta kekayaannya, Bemo Beruang bisa melakukan apa saja.
Agh! Hose Kuda mendengus kesal. Dia bingung jadinya. Para tetangganya kini mulai mengeroyoknya. Menyudutkan dirinya hingga tak bisa membela diri. Padahal selama ini dia tak pernah mengganggu mereka. Bahkan untuk mencari makan pun, Hose Kuda rela berjalan jauh ke tepi hutan untuk mendapatkan rumput segar.
“Ugh… andai saja aku sekaya Bemo, pasti masalah ini bisa terselesaikan dengan mudah. Aku akan memasang kamera CCTV, kamera pengawas yang dipasang di tempat-tempat khusus untuk merekam 24 jam. Pasti akan langsung ketahuan siapa yang suka membuat keributan di sekitar rumahku malam-malam,” ucap Hose Kuda mengkhayal. “Ah, aku juga bisa memasang alarm yang akan berbunyi nyaring saat ada yang menerobos daerahku tanpa ijin!”
“Hihihi… sayangnya semua itu cuma mimpi!” celetuk Dago Anjing sambil terpingkal. Tak dihiraukannya sahabat barunya itu melolot marah padanya. Dia sudah terbiasa dengan kebiasaan Hose Kuda yang makan sambil bicara sendiri. Sejak Hose Kuda datang ke padang rumput di tepi Hutan Azon tempatnya bekerja, Dago Anjing merasa banyak terbantu. Itulah sebabnya dia ingin sekali membalas kebaikan sahabatnya itu.
“Daripada kamu meledekku, lebih baik bantu aku berpikir!” protes Hose Kuda.
“Pertama, saat makan, sebaiknya tutup mulutmu!” sahut Dago Anjing cepat.
Hose Kuda mengerutkan dahinya. “Maksudmu?” tanyanya kemudian.
“Ya. Suara kecapanmu yang keras mengganggu penghuni padang rumput ini.”
“Kamu bercanda, kan? Aku sudah lama makan rumput di sini. Kamu yang selalu menemaniku saja tak pernah terganggu. Kenapa sekarang ada banyak yang protes dengan cara makanku?”
“Baik. Maafkan aku. Aku hanya berusaha membantumu saja,” kata Dago Anjing menyesal.
“Maksudku, bantu aku menemukan suara menggaggu di rumahku itu. Lalu, bantu aku menghentikannya. Karena sekarang semua tetanggaku marah. Bahkan ada yang akan melaporkanku pada Raja Saga,” tutur Hose Kuda putus asa.
Dago Anjing tersenyum mendengarnya.
“Hei… kamu senang, ya, kalau Raja Saga sampai menghukumku?”
“Ih, sekarang kamu jadi mudah tersinggung, ya?” balas Dago Anjing. “Aku tersenyum karena baru menemukan sebuah ide untuk membantumu.”
Lalu, Dago Anjing menyampaikan usulannya. Saat malam nanti terdengar suara misterius itu, Hose Kuda harus segera menelponnya. Jadi Dago Anjing bisa ikut mendengar suara itu dari rumahnya. Dia bisa menebak kira-kira itu suara apa. Selama ini Dago Anjing yang bertugas sebagai petugas penyelamat hutan telah bertemu dan mengenal baik seluruh penghuni Hutan Azon. Jadi, dia pasti mengenali siapa pembuat keonaran ini.
“Kenapa kamu tak menginap saja di rumahku malam ini? Jadi kita bisa sekalian menangkapnya nanti!”
“Hehe… kamu lupa, ya? Aku kan ada tugas menjaga istana Raja Saga setiap malam.”
“Baiklah. Baiklah.”
Malam harinya, Hose Kuda sudah bersiap dengan ponsel di genggaman tangannya. Menanti dengan jantung berdebar-debar. Suara misterius itu begitu tak enak didengar. Pasti pemilik suara itu buruk rupa. Sejelek suaranya. Hiii…! Pikirnya membuat tubuhnya merinding ngeri. Lalu…
“Nyam… cap cap cap! Nyam… cap cap cap!”
“Ah! Dia datang!” pekik Hose Kuda tertahan. Buru-buru dia menelpon sahabatnya.
“Halo, Hose. Sekarang perdengarkan aku pada suara itu!” perintah suara Dago Anjing dari seberang sana.
Hose Kuda segera menurutinya. Mengulurkan ponselnya ke arah suara misterius berasal. Suara itu terdengar keras dari segala penjuru. Waduh… apakah ini berarti makhluk itu ada banyak? Pikirnya tersentak. Baru menyadari selama ini ada makhluk asing yang mengepung rumahnya.
“Hose… aku kenal suara ini!” kata Dogi Anjing kemudian.
“Benarkah? Cepat beritahu aku! Siapa yang berani-beraninya berulah di rumahku?” tanya Hose Kuda berang.
“Apa? Masa kamu tak mengenali suara ini?” sahut Dago Anjing heran sendiri. “Kita berdua kan sering mendengarnya di padang rumput.”
Dahi Hose Kuda mengkerut. Lalu, mencoba mendengar suara misterius itu baik-baik. Tetapi, tetap saja dia tak ingat dengan suara jelek menyakitkan telinga itu. “Aku benar-benar tak tahu. Ayolah, cepat katakan saja! Aku akan memberi pelajaran pada pemilik suara jelek itu! Berani-beraninya dia menggangguku!”
Tiba-tiba Dago Anjing terbahak keras. Tawa sahabatnya itu semakin membingungkan Hose Kuda.
“Baiklah. Besok akan kutunjukkan padamu pemilik suara pengganggu itu. Sekarang nikmati saja suara itu untuk terakhir kali,” kata Dago Anjing sebelum menutup telponnya.
Tinggallah Hose Kuda terbongong-bengong sendiri.
Esoknya, Hose Kuda berangkat pagi-pagi sekali ke padang rumput. Menagih janji Dago Anjing dengan tak sabar hati. “Sekarang bawa aku menemui pemilik suara pengganggu itu!” pintanya kemudian.
Dago Anjing tersenyum. Lalu dia meminta ponsel Hose Kuda dan menyuruh sahabatnya itu sarapan terlebih dahulu. Dago Anjing sudah menyiapkan setumpuk rumput segar yang menggiurkan. Sejenak, Hose Kuda makan dengan lahapnya. Nyam… cap cap cap! Nyam… cap cap cap!
“Baik. Sekarang sudah saatnya kamu bertemu dengan pemilik suara pengganggumu itu dan menghentikan perbuatannya itu. siap?” kata Dogi Anjing.
“Siap! Ini yang kutunggu-tunggu!” sahut Hose Kuda.
Lalu, Dago Anjing mengulurkan ponsel milik Hose Kuda dan menyalakan rekaman yang barusan dibuatnya saat sahabatnya itu sedang makan.
“Nyam… cap cap cap! Nyam… cap cap cap!”
Hose Kuda terkesiap. “I-ini… ini suara kecapanku saat makan?” desisnya tak percaya. “Ja-jadi… akulah pemilik suara itu? Kecapanku telah menganggu seluruh penghuni hutan ini!”
“Syukurlah kamu sudah sadar,” sahut Dago Anjing “Sekarang tepati janjimu untuk menghentikan suara pengganggu ini.”
Hose Kuda mengangguk-anggukkan kepala.
Sejak saat itu, tak ada lagi suara pengganggu di malam hari. Kehidupan di Hutan Azon kembali tentram. Bisa tidur nyenyak kembali. Setelah Hose Kuda berhasil memperbaiki cara makannya dengan bantuan Dogi Anjing, segera suara kecapan dalam rekaman itu menghilang. Entah siapa yang melakukannya, Hose Kuda tak peduli. Yang jelas dia sangat berterima kasih.***

6 komentar:

  1. Huahahahahaha ... seperti biasa, tulisanmu bagus sekali, Mus. Salut! Asli, saya susah bersaing dengan kamu ... semangaaaaaaat!

    BalasHapus
  2. Makasih BangAswi ^_^. Emmus juga harus banyak belajar dari BangAswi nih. bikin blog yang keren.

    BalasHapus
  3. berat bangaswi.... berat emmus ini...
    hahaha....

    BalasHapus
  4. opone seng antep, mataharitimoer?
    emmus juga masih belajar, kok.
    makasih uda komen, ya. (sambil nyari cerita mataharitimoer :D )

    BalasHapus
  5. ^_^ blogwalking, skalian baca-baca cerita2 kawan2 yg ikutan lomba hehehe, salam kenal yah

    BalasHapus
  6. @oneminuteonline: makasih uda baca cerita ini. salam kenal juga ^_^.

    BalasHapus